|
Komentar : Fotografi Itu Subjektif
Anda dapat bebas membaca tulisan ini dan melihat foto-foto yang ada di website ini. Apabila anda berniat menyebarluaskan tulisan ini untuk tujuan apapun, saya harapkan anda membaca halaman ini terlebih dahulu. Terima kasih.
=====
Sebuah komentar yang gue lontarkan, mengenai fotografi yang subjektif
diambil dari thread....
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=110431
Black and White trial
menanggapi komentar, bahwa fotografi itu adalah subjektif. sehingga orang sebaiknya komentar tentang sisi teknisnya saja.
=====
|
|
|
by Blue_Star:
saya mungkin ga jago motret, masih pemula bgt. Jauh lah dari oscar atau davie linggar, apa lagi darwis :) tapi saya mencoba berapresiasi dgn kamera saya. Mencoba motret apa yg saya lihat.
iya, anda mengomentari soal teknis kok... :) maaf gw salah...
Ps : photography itu subyektif, jd klo walker motret stasiun dgn FG nya oma tanpa BG "tanda" bahwa oma sedang berada di stasiun, ya karena memang walker lebih subyektif memilih angle..., imho.
Maksud saya, ada baiknya tgkpoto bicara soal teknis (kita sama2 belajar disini, selain di web buatan valens dan kristupa saragih). Kaya, "mending bukaan lo sekian deh, dgn speed sekian" atau "aga grainy tuh, coba asa sekian, soalnya klo di set di asa sekian foto anda aka terlihat grain"
IMHO loh ya :)
|
|
|
bukan gitu maksud gue... hehehehehe :Peace:
gue kan bukan source of all technical information. jadi, jangan gue yang dijadikan sebagai satu2nya sumber dong... hehehehe... gue kan juga lagi belajar.
mengenai ngomentari soal teknis, dan fotografi yang subjektif....
hmm... fotografi memang subjektif sekali. sama seperti seni (fotografi termasuk dalam seni juga... kata orang). sedangkan seni itu sendiri amat sangat subjektif sekali.
akan tetapi, begitu sebuah karya seni dipaparkan kepada sebuah publik (FN, kaskus, maupun galery), karya seni itu sudah bukan "milik" sang artis. kata "milik" gue beri tanda petik, karena memang artinya berbeda dari kata "milik" yang biasa kita pahami.
begitu sebuah karya seni dipaparkan ke publik, karya seni sudah "milik" publik dalam artian, karya seni tersebut amat terbuka untuk dikritik dan diapresiasi. kritik dan apresiasi publik ini, berasal dari individu2 yang juga menilainya secara subjektif sekali.
hal2 yang dikomentari adalah hasil karya seni itu sendiri secara keseluruhan. karya seninya. hasil akhirnya. baik isi (content), elemen2 yang ada di dalamnya, pesan yang akan disampaikan, hingga teknik yang dipakai untuk membuat karya seni tersebut. bahkan, dalam berkesenian di fotografi, beberapa fotografer juga mengikutkan frame foto sebagai karya seninya dia.
kalau karya seni itu bisa diterima oleh khalayak banyak, disukai, dan dianggap berharga, maka sang artis akan hidup enak. karena karya2nya dia bisa dia jual dengan harga yang tinggi.
berbeda kalau mau 'menentang arus'. nasibnya akan seperti van gough (spell nya bener ndak tuh??), yang selama hidupnya bener2 melarat... dia jadi pengemis dan gelandangan.... tapi, setelah orang2 'mengerti' akan karya2nya... karya2nya bernilai amat sangat tinggi sekali.
mengenai komentar2 gue sendiri.... setiap kali gue komentar atau memberi kritik pada sebuah foto, yang gue perhatikan pertama kali adalah, pesan yang ingin disampaikan oleh sang fotografer. hal ini bisa didapat dari foto itu sendiri, tapi juga dapat dibantu oleh caption (judul).
kalau sebuah foto sudah bisa bercerita dengan sendirinya, tanpa harus ada bantuan caption (judul), maka foto itu masuk katagori foto yang bagus. lagi2, ini adalah definisi bagus menurut standardnya gue. subjektif gue.
kecuali foto2 yang memang mempunyai kesulitan teknis yang tinggi (foto2 still life produk biasanya memiliki kesulitan teknik yang tinggi).
kalau sebuah foto produk, tentunya, pesan yang disampaikan sudah jelas. produk itu sendiri. produknya jelas terlihat atau tidak? kalau sudah jelas produknya, apakah fotonya menarik? kalau sudah menarik, tekniknya gimana?
oleh karena itu, (kalau boleh gue ambil contoh, maaf Walker19) kritik gue pada foto "oma di stasiun nunggu kereta", komentar gue sebagai berikut....
"kalo elo ndak ngomong di judulnya, bahwa ini oma2 lagi di stasiun, nunggu kreta, gue ndak akan tahu ini orang lagi ngapain. sebaiknya, elemen2 yang membantu menceritakan situasi sekitar juga diikutin. entah itu jadwal kereta, rel kereta, atau kereta itu sendiri. kalo kaya gini, seperti orang yang lagi bengong di trotoar."
gue berusaha mengambil pesan apa yang ingin diceritakan oleh fotografernya. yang gue liat adalah foto seorang nenek2, yang sedang berdiri di depan sebuah bg yang polos. sehingga, gue mikir "trus, nenek2 ini lagi ngapain?". gue dapetin jawaban ini dari judul foto. dia sedang ada di stasiun.
nah, dengan foto yang sama, kalo gue kasi judul "menunggu", tentunya akan bisa menambah mood dari foto ini sendiri. sudah tidak perlu lagi dijelaskan bahwa dia tuh oma2 atau nenek2 (terlihat dari keriput2 yang ada di mukanya dia). bahasa tubuhnya pun sudah berbicara kalau dia sedang menunggu.
masalah dia lagi ada di stasiun, dan menunggu kereta, ndak ada elemen2 yang bisa mendukungnya kan? ndak ada elemen2 yang biasa kita temui di stasiun (rel, kursi menunggu, petunjuk waktu, kereta atau elemen2 yang lain). oleh karena itu, gue komen tentang hal itu.
mengenai teknis pengambilan... terlalu terang atau gelap... itu bisa lagi dieksplorasi. tapi apakah perlu? i mean, gue bisa aja komen di foto yang sama dengan kata2 seperti...
"fotonya agak gelap di monitor gue. agak under 0.5 stop. fotonya juga kurang kontras. hitam putihnya ndak terlihat seperti "true" hitam putih. bisa dimengerti, karena diambil dengan kamera digital. pengambilannya juga terlalu buru2. sehingga ekspresi si subjek tidak terlihat. cuma motret punggung doang nih... juga terlalu banyak space kosong"
ndak terlalu ngebantu dalam "isi" foto kan??
atau, lebih suka di komentari seperti ini???
atau kemudian bisa dikomentari lagi.... "terserah dia mo motret seperti itu. kan mau2nya dia mo motret seperti itu"
ya memang. terserah dia mo motret seperti itu. tapi, juga terserah gue toh, mo komen seperti apa. dia sudah naro fotonya di publik. sehingga bisa di komentari. dia berhak sepenuhnya untuk menerima, atau menolak komentar yang gue keluarin. namanya juga seni.... subjektif. egois. suka2 gue....
tinggal balik lagi ke pertanyaan.... fotonya mau diterima khalayak atau mengikuti 'arus' :D
maaf kalau menyinggung.... :)
terima kasih telah mengingatkan..... :Peace:
Ngomong-ngomong....
Kalau tulisan ini dapat membantu anda seperti buku atau workshop dan kursus yang perlu anda ikuti, maka anda dapat ikut membantu saya untuk terus mendukung saya dan website saya ini. klik di sini.
Terima Kasih banyak!
Madia
www.mk-photography.biz
|