|
Komentar: Mean Time Between Failure (MTBF)
Anda dapat bebas membaca tulisan ini dan melihat foto-foto yang ada di website ini. Apabila anda berniat menyebarluaskan tulisan ini untuk tujuan apapun, saya harapkan anda membaca halaman ini terlebih dahulu. Terima kasih.
=====
MTBF, Mean Time Between Failure.
sering banget dipake acuan oleh orang2 'elektronik' (baca: IT and gadget guys n girls) buat nentuin barang 'bagus' atau 'jelek' hehehehe
biasanya sih, antara pemakaian (normal) 2-3 tahun. tergantung dari 'kualitas' barangnya. semakin lama MTBF-nya, semakin mahal barang itu.
kamera digital udah diperlakukan seperti barang elektronik lainnya... yang mana 'umur'nya 'berakhir' ketika model baru keluar.
hmm.....
in my dictionary.... MTBF is just bunch of BS... ups... sorry my language
hehehehehe.....
like i said before.... it's just a marketing jargon.
barang2 elektronik hanya punya 2 'status'.... bekerja atau rusak. tidak ada 'in between' seperti barang2 mekanik analog. it is either working... or NOT working.
as simple as that.
if we keep take care of our electronic equipments, then the equipment will keep working until it dies of natural wear and tear. as long as we didn't see any need to upgrade... then the equipment will keep deliver the same result as we expect when we first buy the equipment.
seperti komputer gue sebelum iBook gue ini.... pentium Celeron (kalo ngak salah... it's been 2 years ago).... dengan memory yang 'hanya' 320 MB (256+64).... tetep bisa menghasilkan hasil yang gue harapkan... karena gue tetep ngotot memakai windows 98 dan photoshop 7.
iBook gue.... masih pake Photoshop 7. and i'm still learning with it... so i dont see any need to upgrade to CS.
my camera.... hmm... 2 years.... 25.000 shots... alhamdulillah masih bisa buat nyari uang pulsa.
others.... gue masih ngeliat wartawan2 di jakarta yang pake D1x atau D100. and they use it every single day to deliver news-photo.
if you dont see any need to upgrade.... why upgrade?? hehehehehe
the quality of your photo is not determined by your equipment.
you paycheck does not determined by your equipment (baru aja tadi siang ketemu senior yang dibayar 150jt rupiah untuk proyek liputan selama 1 bulan..... dan dia masih pake F5 dan F6.... YUP FILM camera!!!)
hehehehehehe..... that's the truth. no marketing jargon....
equiptment WILL fail... eventually....
but i dont think nikon or canon or sony will produce and equipment that suddenly crumble into pieces in 2 years time..... the stakes are just too high....
BUT..... *pause*
speaking of marketing.... *here we go*
it is true that everytime a new model being released (provided in the same class), then the previous model will be discontinued.
it already happened in D70 when D70s comes out..... and soon will be discontinued because of D80.
it happened to 10D when 20D comes out... and now being replaced by 30D.
although i haven't heard any complaints about the lack of spare parts from previous model. yang gue pernah denger 'cuma' keterlambatan datangnya spare part (kalo ini mah bisa 'disalahkan' ke bea cukai-nya indonesia dengan pelayanannya yang super "cepat" ).
so.... orang2 yang sekarang udah punya kamera digital.... dont worry. your camera will deliver the same result as good as the first time you buy the camera. you dont have to upgrade anything....... well... except if you are a gadget minded person....
------------
|
|
|
by Anonymous
@ bos Madia, maksud ane keliatan kalo pendapatnya ken sering lu pake acuan. kan itu namanya poisoning
btw, di beberapa forum, bahkan di nikonian, banyak yang ga suka si ken lo ternyata.
|
|
|
betul sekali !!
gue memang keracunan sama om ken.
dan betul sekali !!
banyak juga orang yang ngak suka sama omongannya om ken...... karena komennya yang agak2 menyakiti hati orang2 hobby hehehehehe.....
doing what i'm doing now..... mencoba mendapat uang dari fotografi buat bayar pulsa hape gue.... bener2 membuat gue ngeliat dari kacamata seorang pe-bisnis hehehehehe
duit yang ngak seberapa itu.... bisa dibuat apa... bisa buat investasi lagi atau ngak.... barang gue kapan bisa balik modal...... hehehehe
itu adalah salah satu alasan kenapa gue ngak 'upgrade' ke D200. Karena gue melihat segala keputusan gue dalam membeli barang fotografi lebih ke arah kegunaan dan depresiasi, ketimbang nafsu emosi pengen punya barang seperti yang dimiliki oleh orang-orang hobby.
Jangan salah, gue pun mengaku sebagai orang hobby. Gue pun nafsu kalo ngeliat lensa yang keren atau aksesoris yang bisa ngebantu gue. Tapi, gue beli alat lebih banyak karena kegunaan gue di kerjaan gue di fotografi. Apakah barang yang gue beli itu bisa nambahin kualitas foto gue? Apakah barang itu bisa mempercepat kerja gue? Apakah barang itu bisa membantu gue ngedapetin momen-momen yang ngak bisa gue ambil dengan alat gue yang sekarang ini?
Dengan pemikiran seperti itu, gue ngeliat omongannya om ken sering cocok dengan jalan pikiran gue. Makanya gue sering pake omongan doi sebagai acuan omongan gue.
Tapi, rasa-rasanya sih gue ngak ngikutin 100% omongannya om ken. Gue juga tanya sini sana, ke guru-gurunya gue, ke temen-temen gue dan juga dari pengalaman gue di lapangan. Contoh paling lucu sih, om ken bilang D40x adalah kamera yang keren, sedangkan gue ngeliatnya agak-agak culun buat gue. Inget yah, buat gue, jadi belum tentu culun buat elu. Gue tetep respek keputusan orang2 yang beli D40x.
Contoh lain adalah lensa 18-200mm VR yang kata doi adalah lensa yang keren banget. Tapi, gue denger-denger dari orang toko, lensa ini punya efek blur yang aneh. Terlepas dari itu, gue ngincernya lensa 55-200mm VR, ketimbang 18-200mm VR. Gue lebih milih itu karena (1) gue dah punya rentang 18-70mm dari lensa kit gue peninggalan D70 gue dan (2) harganya setengahnya 18-200mm VR. Dengan harga 55-200mm yang sekarang ini, kasarnya, gue bisa beli lensa ini dengan harga 'cuma' 2 jutaan. Karena gue beli lensa ini untuk ganti lensa 28-200 punya gue yang gue perkirain bisa laku minimal 1 jutaan.
------------
most people worry about noise, sharpness, back-focus, Mega Pixel, MTBF and shutter cycle....
sekarang ini.... those are the least of my worries....
sekarang ini, gue lebih kawatir sama komposisi gue dan pengetahuan lighting gue..... my camera is just my tools.... just like my tripod and my lamps.... it help me to create image that i had in my mind....
i'm just a photographer.... i took pictures....
------------
gue jadi inget omong2an di salah satu milis yang gue ikutin.
omongannya jadi panjang gara2 rumus DOF. rumusnya apa dan aplikasinya gimana.....
hehehehe......
kalo gue, cara yang paling cepet buat ngeliat DOF.... pencet DOF Preview... trus sesuaiin dengan apa yang gue pengen hehehehehehe.....
jangan salah.... gue punya rumus penghitung DOF di komputer gue. tinggal masukin lensa, jarak lensa ke objek dan bukaan yang dipake....
tapi, gue ngak pernah pake itu hahahahahahaha
Ngomong-ngomong....
Kalau tulisan ini dapat membantu anda seperti buku atau workshop dan kursus yang perlu anda ikuti, maka anda dapat ikut membantu saya untuk terus mendukung saya dan website saya ini. klik di sini.
Terima Kasih banyak!
Madia
www.mk-photography.biz
|