|
Komentar: Marketing Process
Anda dapat bebas membaca tulisan ini dan melihat foto-foto yang ada di website ini. Apabila anda berniat menyebarluaskan tulisan ini untuk tujuan apapun, saya harapkan anda membaca halaman ini terlebih dahulu. Terima kasih.
=====
langkah-langkah ini yang terjadi dalam sebuah design process:
1. customer has wants and needs (2 hal yang berbeda)
2. marketing research try to tabulate customer wants and need into design specification
3. design department mulai merancang produk yang sesuai dengan spesifikasi desain
4. mencoba produk dalam berbagai macam test teknis, sehingga masuk dalam spesifikasi desain
5. merancang proses produksi dan negosiasi supplier untuk menghasilkan produk dengan harga dan kualiatas yang masuk dalam spesifikasi desain
6. meluncurkan produk ke pasaran (masuk ke bagian marketing and sales)
nah.... perhatikan, proses 3, 4 dan 5 adanya di design and production department.
Proses nomer 2 dan 6 adanya di marketing departement dan management. Dalam hal ini, langkah yang paling penting adalah penentuan "Design Specification".
"Design Specification", menjadi dasar fondasi dari pihak design dan produksi untuk bekerja.
Untuk menciptakan sesuatu dari semua teknologi yang dimiliki oleh perusahaan itu, perlu sebuah batasan-batasan dalam desain. Batasan inilah yang namanya "Design Specification".
dalam design spec, ditentuin target market dan price range. juga menentukan jenis bahan baku apa yang yang dipakai. juga termasuk, teknologi apa saja yang dimiliki oleh perusahaan, yang akan dimasukan atau diaplikasikan dalam produk tersebut. juga termasuk, seberapa tahan terhadap wear-and-tear produk tersebut, apakah produk tersebut kuat seperti badak, atau ringkih yang begitu jatuh langsung rusak.
Semua itu penentuannya dilakukan oleh rapat-rapat manajemen dan marketing. Sehingga, termasuk juga mengenai bagaimana cara marketing akan 'menjual' produk tersebut. Apakah perlu dibuat "ketakutan semu" sehingga potential buyer menahan pembelian mereka sampai produk ini diluncurkan (karena produk ini dapat mengatasi ketakutan tersebut). Apakah perlu dibuat semacam "teaser" atau gosip-gosip, bahwa akan ada produk yang dapat mengatasi semua masalah konsumen.
Semua itu adalah keputusan manajemen dan marketing.
Jadi, D70 tidak bisa dikasih battery grip, itu adalah spesifikasi desain.
D40x tidak bisa terima lensa-lensa AF-D, itu adalah spesifikasi desain.
D700 punya sensor FX. D200 punya weather seal. D80 bisa dipasang battery grip. itu semua spesifikasi desain. Keputusan marketing. Hasil dari marketing research.
-----------
fotografi, mau tidak mau, merupakan market bentukan dari teknologi. sebuah cabang seni yang lahir karena ada teknologi. Jaman dulu belum ada fotografi, karena teknologi perekam cahaya masih ngak ada. Baru setelah ada teknologi perekam cahaya (dan teknologi pengatur cahaya), fotografi menjadi menjamur.
oleh karenanya, promosi yang dilakukan oleh perusahaan2 pabrikan kamera, selalu berhubungan dengan teknologi. walaupun, pada akhirnya, sering menjadi salah kaprah.
pada saat kamera digital pertama kali keluar, yang selalu digembar-gemborkan adalah mega pixel. more mega pixel is better. tidak perduli, mega pixel itu adalah hasil boong2an.... hasil interpolasi... hasil penghitungan ulang dari pixel yang ada.
bahkan sampai sekarang. gambar yang dihasilkan oleh ccd dan cmos adalah sudah pasti hasil interpolasi... hasil perhitungan. ngak percaya??? coba google: bayer matrix
sekarang ini, mega pixel sudah tidak lagi dijadikan marketing tools. tidak terlalu.....
karena pada akhirnya, konsumen pun tambah pinter. dan teknologinya pun sudah mulai mature. 6 MP untuk penggunaan sehari2 sudah lebih dari cukup. apalagi dengan harga yang amat sangat terjangkau seperti sekarang ini (6MP poket 'cuma' 2.5jt-an... dibanding 6MP D70 3 tahun yang lalu, 10 jutaan).
--------
beberapa tahun yang lalu, ketika manajemen Canon mengeluarkan seri EOS, mereka melakukan sebuah keputusan berani untuk tidak memakai lagi lensa2 lama mereka. ketika itu, teknologi auto focus baru saja tersedia dan berkembang. Canon memutuskan untuk memproduksi lini lensa baru yang memiliki teknologi auto-focus dengan motor penggerak lensa yang ditanamkan di dalam body lensa itu sendiri. Akibatnya, pada saat konsumen membeli kamera EOS, mereka tidak dapat menggunakan lagi koleksi lensa manual Canon yang sudah terlebih dahulu mereka miliki. Mereka harus membeli baru semua lini lensa mereka kalau mau memakai EOS dengan teknologi auto-focus.
Sedangkan nikon mempertahankan lensa-lensa lama mereka, dan menempatkan motor penggerak lensa untuk auto-focus di dalam body kamera. dengan begitu, pengguna kamera yang memiliki teknologi auto-focus tetap bisa menggunakan koleksi lensa-lensa manual-focus nikon yang sudah mereka miliki. Baru belakangan nikon meletakkan motor penggerak lensa di dalam body lensa itu sendiri (dikenal teknologi AF-S).
hasil dari dua strategi yang berbeda ini dalam rentang persaingan bisnis 10 tahunan... Canon bisa menguasai pasar jurnalistik, khususnya jurnalisik sport. salah satu pasar yang menjadi andalan di perang SLR. hal ini dikarenakan jurnalistik memang memerlukan kecepatan auto-focus untuk mengambil momen berita yang hanya terjadi dalam sekejab.
--------
lalu, di pasar kamera digital slr, nikon kembali ketinggalan kereta. padahal nikon lah yang pertama kali memperkenalkan digital-SLR dengan D1 -nya. nikon berusaha mengejar ketinggalannya dengan D70.
hanya saja, satu hal yang bener2 perlu diperhatikan adalah keputusan nikon untuk tetep pake ukuran sensor DX. keuntungan paling signifikan dari penggunaan sensor DX adalah lensa yang lebih murah dan kecepatan auto-focus yang amat tinggi. hal ini karena konstruksinya yang jauh lebih kecil ketimbang lensa 'normal'.
kenapa?? well... karena ukuran sensornya kecil... berarti bagian yang perlu diterangi di sensor menjadi lebih kecil. lingkar gambar di shutter lebih kecil. sehingga desain lensa jadi jauh lebih mudah. konstruksinya pun jadi lebih ringkas. auto fokus yang lebih cepat.
terbukti dengan 18-200mm DX VR. rentang yang sepanjang itu, ditambah VR, hanya 8 juta perak.
sedangkan canon... mempertahankan ukuran sensor yang besar (full frame). akibatnya, lensa2 profesionalnya (lensa L) perlu memiliki lingkar gambar yang 2 kali lebih lebar dari nikon. akibatnya.... ya ke harga tentunya.
tapi, tentu saja, secara teknis, sensor yang lebih lebar memang membuat dynamic range yang lebih lebar. warna yang lebih matang. kontrol terhadap noise juga lebih baik.
bigger sensor versus cheaper and faster lens. kita lihat aja, nanti siapa yang menang.
---------
secara teknis.... kedua perusahaan itu, canon dan nikon, punya teknologinya. mereka punya teknologi untuk ngebikin gambar yang tajam dan untuk ngebuat sensor yang bagus.
lalu, kok nikon pake sensor dari sony (cmiiw)? kok nikon pake sensor DX? kok pake cmos? kok pake ccd? kok 6 mp??
back again... itu mah keputusan marketing dan manajemen masing2 perusahaan.
nikon punya strategi untuk hanya memberikan teknologi2 baru mereka ke orang2 yang lebih membutuhkan dulu (dan mau bayar mahal untuk itu)... para profesional.
canon punya stategi untuk meratakan teknologi yang mereka miliki.... vertical grip untuk entry level??
--------
speaking about entry level.... sebenernya... siapa sih yang nentuin??
well... yang nentuin tuh pabrikan kamera itu sendiri.
entry level, secara definisi, adalah tingkatan paling pertama dalam tingkatan harga, dimana seorang konsumen bisa masuk dalam teknologi tertentu. dalam hal ini, slr.
dan biasanya... dari dulu... nikon... mengeluarkan kamera2nya sesuai dengan tingkatan2nya masing2. seperti f50, f75, f90, f100, hingga f5.
entry level, hobby, semi-professional, dan profesional.
gue sendiri ngak tahu strategi canon... yang gue tahu, canon berusaha nembak level hobby-nya nikon dengan entry level mereka.
D80 yang 10MP ditembak sama 400D yang sama2 10MP.
padahal, secara kelas, 400D 'seharusnya' dilawan sama D40. tapi, di sini aja ada yang protes. masa kamera kelas 10MP ditembak sama kamera kelas 6MP.
ya... kalo gue bilang, itu kalo diliat dari kelas MP. bukan kelas pengguna.
coba aja bandingin body per body. body 400D kalo dipegang, dibandingin sama body D80... 'mantepan' yang mana?? itu pun termasuk dalam spesifikasi desain loh....
gue sih inget, jaman2 350D, gue anggep kamera itu kaya kamera maenan. soalnya kelingking gue ngak pegang kamera.
mungkin sama halnya kalo gue pegang D50. tapi, seinget gue, di D50 gue tetep bisa pegang kamera dengan manteb... walopun memang enteng banget kaya maenan (kedua kamera tersebut).
but then again... tiap2 orang punya argumen sendiri2.
so..... masih mempermasalahkan MP??
---------------
*update 21 Juli 2008*
Nikon ngeluarin D40x, 10MP. Dengan demikian 400D canon dilawan dengan D40x nikon yang sama-sama entry level, dan keduanya akhirnya juga 10MP. Lagi-lagi, ini adalah strategi marketing yang menurut tebakan gue, supaya D80 bisa bersaing dengan 20D.
Lalu, nikon juga mengeluarkan kamera FX, full frame. Dengan demikian, full frame canon sekarang sudah ada 'lawan' dari nikon. Sedangkan dari harga, dilihat dari kelasnya, nikon lebih murah ketimbang canon. Jadi, dengan kualitas yang hampir-hampir sama, dan harga yang lebih murah, keliatannya nikon mulai mengejar ketinggalannya.
Beberapa teman malah sudah ada yang mulai menyesali keputusan untuk "pindah agama" dari nikon ke canon. Mungkin mereka pikir, Nikon tidak akan bisa mengejar ketinggalan teknologi yang dimiliki oleh Canon. Mungkin mereka juga mikir kalau Nikon tidak akan mengeluarkan sensor Full frame, yang mana secara teknis memang lebih baik ketimbang half-frame sensor.
Lagi-lagi, kita lihat sama bagaimana mereka bersaing dan bertempur. Kita sebagai konsumen jangan terjebak dalam pertempuran itu. Kita sebagai konsumen tinggal memetik hasil dari pertempuran itu, yaitu teknologi yang semakin baik dan murah.
Ngomong-ngomong....
Kalau tulisan ini dapat membantu anda seperti buku atau workshop dan kursus yang perlu anda ikuti, maka anda dapat ikut membantu saya untuk terus mendukung saya dan website saya ini. klik di sini.
Terima Kasih banyak!
Madia
www.mk-photography.biz
|