MK-Photography Home
Kaskus - General - Umum
Pendahuluan Fotografi
 

Anda dapat bebas membaca tulisan ini dan melihat foto-foto yang ada di website ini. Apabila anda berniat menyebarluaskan tulisan ini untuk tujuan apapun, saya harapkan anda membaca halaman ini terlebih dahulu. Terima kasih.

=====

Seharusnya anda sekarang sudah mulai motret memakai fitur auto di kamera anda. Setelah motret sana-sini, anda mungkin mulai memperhatikan bahwa foto-foto yang anda ambil tidak seperti apa yang anda inginkan.

Anda mungkin membayangkan sesuatu, sebuah gambar yang pernah anda lihat. Lalu, anda melihat sebuah scene yang anda pikir bisa menjadi gambar yang pernah anda lihat itu. Anda jadi bersemangat! Anda ambil fotonya. Lalu, ketika melihat hasilnya di LCD kamera, apa yang anda lihat di LCD tidak seperti apa yang anda bayangkan. Anda mencoba lagi. Anda memotret lagi. Tapi, somehow, hasilnya jauh dari apa yang anda inginkan. Parahnya, anda mulai frustasi dan mulai berpikir bahwa fotografi memang bukan bidang anda.

Pertama, anda perlu santai dulu. Terkadang fotografi memang bisa membuat stress dan frustasi. Saya saja masih sering frustasi kalau saya ngak dapet-dapet foto yang saya mau. Kuncinya adalah berusaha tidak terpengaruh dengan hasil yang jelek seperti itu, dan tetap terus motret. Walaupun sekarang, mungkin anda perlu mengetahui sedikit tentang teknik fotografi. Dengan mengetahui sedikit tetang teknik fotografi, mungkin saja, suatu saat nanti, anda dapat menghasilkan foto-foto yang cukup layak seperti yang anda bayangkan.

Sebelumnya, konsep dari fotografi. Pada dasarnya, fotografi adalah proses membuat gambar (image) dari cahaya. "Melukis dengan cahaya" adalah kata-kata yang selalu dikaitkan dengan fotografi. Cahaya itu sendiri yang membuat lukisan. Kalau seorang pelukis membutuhkan kanvas, beberapa botol atau kaleng cat, dan beberapa tipe kuas. Dalam fotografi, kita memakai alat yang berbeda untuk membuat "lukisan", yaitu (1) sumber cahaya sebagai catnya kita, (2) alat perekam cahaya sebagai kanvas kita, dan (3) alat pengontrol cahaya sebagai kuas kita.


Fotografi adalah melukis dengan cahaya

Dalam fotografi, kita membuat lukisan dari cahaya,
alat perekam cahaya, dan alat pengontrol cahaya.


Kita akan membahas satu per satu dari ketiga elemen fotografi pada bab-bab berikutnya. Sekarang ini, hal yang perlu saya tekankan adalah untuk mendapatkan fotografi, kita hanya membutuhkan tiga elemen. Kamera dan film tidak akan berfungsi apa-apa kalau tidak ada cahaya. Sebuah kardus bekas bisa diubah menjadi sebuah kamera pin-hole. Sebuah lilin atau lampu senter bisa dipakai sebagai sumber cahaya. Dari semua itu, prinsipnya masih tetap sama. Kita hanya membutuhkan sumber cahaya yang bisa dikontrol yang lalu bisa direkam pada benda yang sensitif terhadap cahaya.

Kita memiliki 2 alat yang bisa kita pakai untuk mengontrol banyaknya cahaya yang akan kita rekam, DIAFRAGMA (APERTURE - selanjutnya saya akan pakai istilah aperture untuk kesamaan istilah) dan KECEPATAN RANA (SHUTTER SPEED - selanjutnya saya akan pakai istilah shutter speed untuk kesamaan istilah). Biasanya dalam sebuah kamera, terdapat dua alat ini. Seperti saya katakan sebelumnya, kamera kita adalah kuas kita. Mau semodern dan serumit apapun kamera kita, kamera itu tetap saja kuas kita. kita memakai aperture dan shutter speed untuk mengontrol banyaknya cahaya yang akan kita tangkap, sehingga kita bisa membuat gambar yang sudah kita bayangkan. Jadi, kamera tidak menentukan bagus tidaknya foto kita. Teknologi memang akan membantu kita, tapi bukan teknologi yang membuat sebuah foto. Kamera hanyalah sebuah kuas. Kita memakai kuas kita untuk mengontrol banyaknya cahaya yang akan kita rekam.

Cahaya yang diteruskan oleh kamera dan lensa kita, akan ditangkap oleh alat perekam cahaya. Biasanya, alat ini berbentuk FILM atau SENSOR DIGITAL. Film dan sensor digital menjadi kanvasnya kita. Mereka akan mereka cahaya apapun yang kita berikan kepada mereka. Selama zat sensitif-cahaya yang berada di film kita cukup sensitif untuk merekam cahaya tersebut, maka film kita pasti akan merekamnya.

Dari hubungan APERTURE, SHUTTER SPEED, dan FILM ini, kita mendapatkan Segitiga Fotografi. Sebuah segitiga yang amat dasar di dalam fotografi, alih-alih anda akan bertemu dengan segitiga ini dalam semua proses pembuatan sebuah foto. Kalau anda sudah mulai membuat foto, maka anda sudah memakainya. Walaupun mungkin anda tidak menyadarinya. Anda tidak menyadarinya, apalagi kalau anda memakai fitur automatic di kamera anda, karena anda membiarkan kamera anda untuk berpikir dan berhitung untuk anda tentang segitiga ini.


Photography Triangle

Segitiga Fotografi bisa dianggap
sebagai konsep dasar di fotografi


Saya akan membahas Photography Triangle lebih lanjut di bab berikutnya. Untuk sekarang ini, saya hanya perlu mengatakan bahwa semua aspek dari segitiga ini adalah saling berhubungan. Merubah satu aspek, akan membuat perubahan setting di aspek yang lain, apabila kita ingin mendapatkan hasil yang sama.

Jadi, untuk menutup pendahuluan ini, saya hanya akan mengatakan bahwa dalam fotografin anda hanya membutuhkan 3 (tiga) elemen, yaitu (1) cahaya, (2) cara merekam cahaya, dan (3) cara untuk mengontrol cahaya. Selama ada ketiga elemen ini, maka dapat kita katakan ada proses fotografi. Ada aktifitas membuat sebuah gambar dari cahaya yang kita "tangkap".

Sebelum lanjut ke topik berikutnya, mohon anda baca halaman ini dulu. Makasih!

Pertama kali: 1 August 2008
Last edit: 3 August, 2008